JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia

Closing Ceremony JCFF 2026, Minggu (19/7/2026). Foto : Peni Widarti


Jatimview.com, SURABAYASelama 3 hari (17 - 19 Juli 2027) penuh aroma kopi, teh, dan rempah di Surabaya resmi usai. Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 menutup gelaran tahun ke-5 nya dengan catatan manis: potensi transaksi tembus Rp92,45 miliar dan diserbu lebih dari 160.000 pengunjung luring dan daring.

Tapi bagi Bank Indonesia Jawa Timur, angka itu bukan tujuan akhir.

"Hari ini adalah penutupan kegiatan JCFF yang merupakan tahun ke-5 kita selenggarakan di Kota Surabaya Jawa Timur. Ini bukan suatu akhir, namun sesungguhnya yang berakhir hanya seremoninya saja. Semangatnya kami harapkan akan terus berkembang dan terus maju," ujar Kepala Perwakilan BI Jatim, Ibrahim dalam penutupan JCFF 2026, Minggu (19/7/2026)

Kolaborasi Bikin Ekosistem Makin Kuat

Selama festival, ada 72 UMKM binaan BI se-Jawa dan 25+ UMKM binaan Pemkot Surabaya yang ikut meramaikan. Ditambah artisan tea dan modern coffee shop.

Hasilnya? Transaksi langsung di booth UMKM mencapai sekitar Rp1 miliar. Stok banyak yang ludes.

Di meja business matching, hasilnya lebih besar lagi: 31 komitmen pembiayaan Rp20 miliar dan 54 LoI perdagangan Rp67 miliar. Semuanya dikawal BI bersama perbankan anggota BMPD Jawa Timur.

"Perjalanan 5 tahun ini menunjukkan 1 hal. Yang tumbuh bukan hanya acaranya, tetapi juga ekosistemnya yang semakin kuat dan semakin luas," kata Ibrahim.

Menurutnya, JCFF bukan sekadar festival. Ini ruang temu antara petani, UMKM, pemerintah, perbankan, akademisi, media, sampai para penikmat kopi.

Modal Jawa: 250.000 Ton Kopi-Teh & 540.000 Ton Rempah

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, mengingatkan bahwa Jawa punya "harta karun" yang jadi fondasi kuat.

"Dalam konteks ini, Jawa memiliki modal yang kuat, memiliki komoditas, kopi, atau teh dan rempah-rempah yang menjadi kekuatan. Sekaligus bernilai budayanya," ujarnya.

Data 2024 mencatat produksi kopi, kakao dan teh di Jawa masih stabil di kisaran 220.000 - 250.000 ton. Untuk rempah, angkanya bahkan 540.000 ton.

"Hal ini semua menjadi fondasi penting bagi industri makanan, minuman, dan produk herbal," jelas Filianingsih.

Jawa Timur sendiri sebagai sentra utama kopi dan kakao, tetap berdaya saing di pasar internasional meski ekonomi global sedang melambat. PR ke depan: naikin kualitas, biar nilai jualnya makin tinggi.

Sambungkan Kopi dengan QRIS & Pariwisata

Selain produksi, BI juga mau nguatin ekosistem digitalnya. Salah satunya lewat QRIS.

"Kami akan mendorong digitalisasi transaksi UMKM maupun pemerintah daerah agar semakin inklusif. Kita melihat bahwa pertumbuhan QRIS terus meningkat dan ini menjadi manfaat nyata bagi UMKM," tegas Filianingsih.

Alasannya simpel: sektor kuliner punya daya ungkit besar. Ada 11,9 juta merchant makanan-minuman di Indonesia atau 25% dari total merchant. Belum lagi sektor ini menyerap 23,8% belanja wisatawan.

"Untuk itu, Bank Indonesia akan terus melakukan sinergi untuk menghubungkan kuliner, pariwisata, pembayaran digital untuk memperkuat UMKM dan menggerakkan ekonomi lokal," pungkasnya.

Dengan dukungan Pemprov, Pemkot, komunitas, dan masyarakat, JCFF 2026 membuktikan satu hal: cita rasa lokal Indonesia memang layak dinikmati seluruh dunia.




Penulis          : Alvian Yoananta
Editor            : Redaksi



Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia
  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia
  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia
  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia
  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia
  • JCFF 2026 Tutup Manis: Rp92,45 Miliar & 160.000 Pengunjung, Kopi Jawa Siap Mendunia

Posting Komentar