Dorong Digitalisasi: Mahasiswa UM Bantu Pemasaran UMKM Jamu Zafapris
![]() |
| Foto bersama mahasiswa UM BBM dengan pelaku usaha jamu Zafapris. Foto : Carissa Nadya Azmi |
Jatimview.com, MALANG - Perkembangan teknologi digital mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk beradaptasi dengan pola pemasaran yang lebih modern.
Namun, masih banyak UMKM yang menghadapi kendala dalam memanfaatkan platform digital akibat keterbatasan literasi digital, sehingga pemasaran produk masih bergantung pada cara konvensional dan jangkauan pasar belum berkembang secara optimal.
Salah satu UMKM yang menghadapi tantangan tersebut adalah UMKM Jamu Zafapris di Desa Dengkol. Meski memiliki berbagai produk jamu tradisional berbahan alami, pemasarannya masih didominasi penjualan langsung kepada pelanggan sekitar.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendampingan agar usaha dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Tematik Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga menjadikan digital marketing sebagai salah satu program kerja utama.
Pendampingan dilakukan melalui pendaftaran merchant ShopeeFood, optimalisasi WhatsApp Business, serta penyusunan katalog produk digital sebagai upaya memperkuat pemasaran dan mempermudah konsumen memperoleh informasi maupun melakukan pemesanan.
Ketua UM BBM Tematik, Fathan Sya’bana, menjelaskan bahwa program digital marketing dirancang untuk membantu pelaku UMKM beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
"Kami memilih digital marketing sebagai program kerja utama karena melihat masih banyak UMKM yang memiliki produk berkualitas, tetapi belum memanfaatkan media digital secara optimal. Dari hasil observasi, UMKM Jamu Zafapris sebenarnya sudah memiliki legalitas yang lengkap, namun strategi pemasarannya masih didominasi cara konvensional. Karena itu, kami mendampingi pembuatan WhatsApp Business, akun Instagram, materi promosi digital, hingga pendaftaran ShopeeFood. Harapannya, setelah program ini selesai, Ibu Iradatul Khamsiyah dapat terus mengelola pemasaran digital secara mandiri sehingga Jamu Zafapris semakin dikenal dan penjualannya terus meningkat," ujar Fathan Sya’bana Ketua Tim UM BBM Tematik, Rabu (15/7/2026).
UMKM Jamu Zafapris merupakan usaha milik Iradatul Khamsiyah yang memproduksi berbagai minuman jamu tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan herbal alami.
Melalui merek "Zafapris", ia terus berupaya menghadirkan produk yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan usaha yang telah dirintisnya mampu mengikuti perkembangan teknologi dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
"Jamu Zafapris sudah kami jalankan sejak 2017. Awalnya kami berjualan jamu gendong yang langsung disajikan dalam gelas, lalu mulai beralih ke kemasan botol dan dipasarkan melalui toko oleh-oleh, koperasi dengan sistem titip jual, serta pemesanan lewat WhatsApp," ungkap Iradatul Khamsiyah selaku pemilik UMKM Jamu Zafapris.
Selama ini kendala kami memang masih kurang paham soal digital marketing. Setelah didampingi mahasiswa UM BBM Tematik, sekarang mereka sudah punya WhatsApp Business dengan katalog produk, akun Instagram, dan merchant ShopeeFood. Harapannya, Jamu Zafapris bisa semakin dikenal dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Melalui program digital marketing ini, mahasiswa UM BBM Tematik berharap UMKM Jamu Zafapris mampu memanfaatkan platform digital secara berkelanjutan sebagai sarana promosi dan penjualan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM diharapkan dapat memperkuat daya saing usaha lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Dengkol.

Posting Komentar