Tahan Gempuran Ekonomi, Okupansi Mall Pakuwon Bertahan 98%-100%
Jatimview.com, SURABAYA - Di tengah tekanan ekonomi 2026 akibat konflik geopolitik Timur Tengah dan pelemahan Rupiah terhadap dolar AS, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) justru membuktikan fundamental bisnisnya tetap kokoh.
Kinerja kuartal I/2026 jadi buktinya yakni dengan pendapatan naik 6% (YoY) ke Rp1,646 triliun, dan laba bersih yang melonjak 29% (YoY) ke Rp511 miliar, dan margin EBITDA menguat ke 55,6%.
Kekuatan utama ada di portofolio ritel. Data kuarta I/2026 menunjukkan okupansi mall-mall inti Pakuwon masih bertengger di level 95%-100%, jauh di atas rata-rata industri yang mulai tertekan daya beli.
Kota Kasablanka Mall Jakarta mencatat okupansi 100% selama 4 tahun berturut-turut. Royal Plaza Surabaya 98%, Pakuwon Mall Solo Baru 99%, Tunjungan Plaza 97%, dan Pakuwon Mall 95%. Bahkan Pakuwon Mall Bekasi yang baru dibuka November 2024 langsung tancap gas dengan okupansi 96%.
Stabilitas ini bukan kebetulan. Pakuwon punya strategi "lease expiry profile" berlapis yakni strategi pengelolaan sewa yang matang dan terstruktur. Hanya 4% area ritel yang saat ini kosong. Sementara 41% kontrak sewa baru akan jatuh tempo 2030 ke atas, sisanya terdistribusi rapi hingga 2029. Artinya, pendapatan sewa ritel yang menyumbang 62% dari total pendapatan Rp1,646 triliun itu aman dari risiko kekosongan massal saat ekonomi bergejolak.
“Saat segmen pengembangan properti seperti rumah tapak melambat karena suku bunga tinggi, segmen berulang inilah yang jadi penopang,” ujar General Manager Finance Pakuwon Fenny dalam paparan publik di Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, laba kotor yang lebih tinggi ditambah beban bunga turun pasca buyback obligasi membuat laba bersih kuartal I/2026 tumbuh jauh lebih cepat dibanding pendapatan.
Fokus ekspansi ke pasar potensial seperti Semarang, Batam, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin menguatkan narasi, bahwa perseroan akan menambah Net Leasable Area (NLA) untuk hotel sebesar 76%, untuk ritel 34% hingga 2035. Langkah ini menjadi sinyal Pakuwon yang tidak berhenti investasi meski ekonomi global sedang berisik.
Di era ketidakpastian, investor butuh arus kas stabil dan aset defensif. Lewat mall yang full dan kontrak panjang, Pakuwon Jati membuktikan ritel berkualitas di superblok terintegrasi tetap jadi 'mesin ATM' yang tidak gampang mati, meski Rupiah anjlok atau harga minyak dunia naik karena perang.
Presiden Direktur PWON, Alexander Stefanus Ridwan Suhendra menambahkan, untuk pengembangan properti di Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur sendiri juga terus berjalan. Namun pemindahan Aparatur Sipil Negara (ASN) ke sana masih berjalan lambat. Hal ini dipengaruhi kesiapan infrastruktur dan perizinan yang sudah disiapkan.
“Semuanya akan dilakukan sesuai rencana pemerintah, karena targetnya 1 juta penduduk di IKN pada 2028, tapi jumlah ASN yang pindah tahap awal hanya beberapa ribu orang. Sehingga pengembangan Pakuwon di IKN akan disesuaikan dengan kesiapan seluruh fasilitas agar tidak terjadi kekosongan,” tutupnya.
Pada 2025, Pakuwon Jati catat pendapatan bersih Rp7,11 triliun, laba bersih adjusted Rp2,92 triliun. Pendapatan berulang jadi andalan, terutama dari ritel yang naik 14% ke Rp3,93 triliun. Sewa kantor agak turun jadi Rp273 miliar, tapi hotel naik tipis ke Rp1,42 triliun. Pendapatan development stabil di Rp1,49 triliun.
Belanja modal Rp1,21 triliun buat proyek Bekasi, Surabaya, dan lainnya. Dividen Rp13/saham (Rp626 miliar) disiapkan, 26,7% dari laba bersih.
"Ini komitmen kami untuk memberi nilai tambah ke pemegang saham," kata Minarto Basuki, Corporate Secretary PWON.

Posting Komentar