Rupiah Terguncang, Suku Bunga Naik Lagi Jadi 5,50%. Ini Alasan BI & Dampaknya!
![]() |
| Ilustrasi uang Rupiah. Foto: SS BI Youtube |
Jatimview.com, SURABAYA - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 0,25% menjadi 5,50% melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada 9 Juni 2026.
Kenaikan ini juga diikuti suku bunga Deposit Facility jadi 4,50% dan Lending Facility jadi 6,25%. Langkah ini diambil BI sebagai jurus lanjutan buat memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah yang lagi tertekan.
Penyebabnya ada 2, yakni gejolak global akibat perang di Timur Tengah yang bikin investor panik, serta tingginya permintaan dolar di dalam negeri. Selain itu, BI juga mau jaga inflasi 2026-2027 tetap di sasaran 2,5±1% sesuai target pemerintah, sekaligus bikin imbal hasil investasi di Indonesia semakin menarik agar uang asing mau masuk lagi.
Sejak RDG Bulanan 19-20 Mei 2026 lalu, BI melihat bahwa pelemahan Rupiah lebih parah dari perkiraan. Tidak cuma karena sentimen perang, tapi juga karena investor asing banyak yang narik uangnya keluar dari Indonesia. Untuk itu, BI memutuskan untuk naikkan bunga agar Rupiah tidak anjlok lebih dalam.
"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia,” ujar Perry Warjiyo dikutip dalam siaran pers, Kamis (11/6/2026).
Harapannya, jika suku bunga di Indonesia lebih tinggi, investor asing bakal lebih memilih untuk menaruh uangnya di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) dari pada ke negara lain.
Selain naikin BI-Rate, BI juga mengeluarkan paket jurus tambahan. Pertama, bunga SRBI dinaikkan untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan agar kompetitif dengan negara lain. Kedua, BI kasih diskon 10% untuk biaya lindung nilai atau hedging swap bagi investor asing.
Selama ini investor dikenakan biaya untuk jaga-jaga jika Rupiah melemah. Untuk itu saat ini biayanya diturunkan agar investor makin tertarik masuk.
Ketiga, BI membuka kembali lelang repo alias pinjaman jangka pendek untuk bank dengan tenor 3 sampai 12 bulan. Tujuannya agar uang di pasar tetap cukup, jadi pertumbuhan uang beredar tetap di atas 10%.
Keempat, intensitas operasi moneter ditingkatkan. Lelang SRBI sekarang dilakukan 2x seminggu, plus BI rajin intervensi dolar lewat transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
BI bersama Kementerian Keuangan kompak berupaya menjaga Rupiah sesuai yang sudah disepaki pada 6 Juni 2026 lalu. Caranya: membuat SRBI dan SBN semakin menarik bagi asing, serta menjaga kas pemerintah tetap di BI agar likuiditas pasar aman.
BI meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan tahan banting. Dengan koordinasi fiskal-moneter yang makin solid, BI optimistis stabilitas makro ekonomi terjaga dan pertumbuhan ekonomi tetap bisa jalan meski dunia lagi nggak stabil.

Posting Komentar