Perdagangan Kuasai Kredit UMKM Jatim, NPL 5,45%: Bank Masih Takut Biayai Industri ?
![]() |
| Infografis kinerja penyaluran kredit UMKM di Jatim, sumber data OJK Jatim. Foto : Buatan AI |
Jatimview.com, SURABAYA - Sektor perdagangan besar dan eceran jadi ‘raja’ penyaluran kredit UMKM dan KUR di Jawa Timur. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jatim mencatat 46,65% kredit UMKM dan 44,24% KUR Jatim lari ke pedagang, bukan ke sektor produktif seperti industri pengolahan yang cuma kebagian 3,85%.
Total outstanding kredit UMKM di Jatim tembus Rp627,39 triliun hingga April 2025. Dari jumlah itu, Rp397,09 triliun atau 63,23% disalurkan ke segmen mikro dan kecil. Sementara kredit usaha menengah Rp230,30 triliun atau 36,77%.
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jatim, Horas V. M. Tarihoran, menyebut kredit UMKM memang sedikit terkontraksi secara tahunan dengan rasio kredit bermasalah atau NPL tercatat 5,45%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding NPL Kredit Usaha Rakyat (KUR) Jatim yang hanya 2,22%.
"Outstanding KUR tumbuh secara yoy dengan NPL yang masih terjaga,” katanya dalam paparan Media Briefing di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Adapun total KUR Jatim Rp67,76 triliun, dengan NPL 2,22% lebih sehat dibanding rata-rata Pulau Jawa 2,64% dan nasional 2,40%.
Dominasi sektor perdagangan juga terlihat dari data KUR. Dari Rp67,76 triliun KUR Jatim, 44,24% masuk ke pedagang besar dan eceran. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan hanya 4,74%. Industri pengolahan lebih kecil lagi, 3,78%.
Kondisi ini menjadi alarm bagi sektor jasa keuangan, bahwa jika kredit masih menumpuk di perdagangan, nilai tambahnya kecil. Sehingga Jatim butuh lebih banyak kredit masuk ke industri pengolahan dan pertanian agar ekonomi tumbuh berkualitas karena mampu menciptakan nilai tambah.
NPL UMKM 5,45% diduga menjadi alasan bank untuk hati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor produktif. Padahal KUR membuktikan, dengan pendampingan dan bunga rendah, NPL bisa ditekan ke 2,22%.
Tantangan ke depan: mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor produktif tanpa mengorbankan kualitas kredit. Jika tidak, UMKM Jatim akan selamanya jadi pedagang, bukan produsen.

Posting Komentar