Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%

Jajaran pemimpin BI, OJK, LPS, DJPb Jatim dalam Media Briefing di Surabaya, Senin (22/6/2026). Foto : Peni Widarti

Jatimview.com, SURABAYA - Situasi geopolitik global yang memanas, mulai dari perang Timur Tengah hingga penguatan dolar Amerika Serikat (AS), diprediksi masih membayangi perekonomian tahun ini.

Namun Bank Indonesia memperkirakan kinerja ekonomi nasional, khususnya Jawa Timur di 2026 tetap solid di kisaran 4,9–5,7% (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga, investasi kuat, dan terjaganya permintaan eksternal.

Prospek inflasi 2026 juga diperkirakan tetap terkendali di rentang sasaran nasional 2,5±1%. Capaian ini jadi modal penting bagi Jatim untuk bertahan di tengah ketidakpastian global yang menekan pasar keuangan dan harga komoditas.

Inflasi Mei 2026 Terkendali, Tapi Harga Minyak Jadi Tekanan

Data BI mencatat pada Mei 2026, Jawa Timur mengalami inflasi 0,28% (mtm) atau 3,49% (yoy), masih dalam rentang sasaran 2,5±1%. Kenaikan tarif angkutan udara dan beberapa komoditas pangan strategis jadi pendorong utama inflasi bulanan. Surabaya tercatat sebagai wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi, sementara Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi.

BI menegaskan inflasi Jatim tetap terkendali berkat pasokan pangan yang mencukupi. Namun tekanan harga akibat perkembangan harga minyak dunia perlu diwaspadai seiring eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia - Jatim, Ibrahim mengatakan, ketidakpastian geopolitik memang membuat dolar AS terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

"Kita tidak bisa memprediksi peristiwa geopolitik seperti kemarin berlangsung sampai berapa lama. Kita juga belum bisa memastikan apakah perjanjian antara kita dan Amerika ini sudah soft clear dan dipastikan aman. Yang bisa kita pastikan adalah bagaimana ekonomi Indonesia dan Jawa Timur ini siap menghadapinya," katanya dalam Media Briefing di Kantor OJK Jatim, Senin (22/6/2026).

Konsumsi & Investasi Jadi Bantalan

BI menilai keunggulan Jatim dan Indonesia saat gejolak global adalah besarnya porsi ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga dan investasi jadi competitive advantage yang terbukti membuat ekonomi RI lebih resilien dibanding negara lain saat krisis.

Menurutnya, Jatim sendiri memiliki keunggulan dari ekonomi basic yaitu dikonsumsi rumah tangga dan investasi. Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini secara rata-rata hanya 3,3% - 3,4%. Namun di Indonesia, khususnya Jatim tumbuh jauh di atas itu yakni sekitar 5% lebih.

"Artinya kita masih tinggi dari average ekonomi internasional dan itulah pondasi yang penting kita," tambahnya.

Dari sisi inflasi, lanjutnya, Jatim masih mampu terjaga di koridor 2,5±1%. Menurutnya, ketika ekonomi tumbuh, inflasi juga tetap terjaga yang berarti kondisi inflasi juga masih aman.

"Nah, itu menjadi kata kunci, baik investor dunia yang mencari ekonomi yang tumbuh yang disertai dengan stabilitas harga yang masih terjaga. Dan Indonesia, Jawa Timur kita punya keduanya di situ," ujarnya.

Ibrahim menambahkan, dalam menghadapi tantangan global tersebut, BI pun telah menempuh bauran kebijakan guna memperkuat stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. BI Rate saat ini di level 5,75%, Suku Bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.

"Melalui suku bunga ini, BI menjaga agar inflasi tetap terkendali dan stabilitas nilai tukar terjaga di tengah derasnya aliran modal keluar ke aset safe haven seperti AS," imbuhnya.

4 Jurus BI Jaga Ekonomi Jatim dari Gejolak Global

1. Perkuat Efektivitas Kebijakan Moneter

BI meningkatkan intensitas intervensi valuta asing melalui DNDF, menjaga struktur suku bunga SRBI, dan melanjutkan pembelian SBN dari pasar sekunder. Likuiditas juga dipastikan cukup dengan memastikan pertumbuhan uang primer >10%, termasuk pembukaan lelang SWBI tenor 6, 9, dan 12 bulan.

2. Perkuat Kebijakan Makroprudensial

Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank ditingkatkan menjadi 40% efektif 1 Juli 2026. Insentif likuiditas makroprudensial diperluas untuk sektor hilirisasi, perumahan, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Transparansi Suku Bunga Dasar Kredit juga dipublikasikan.

3. Perkuat Sistem Pembayaran

Perluasan QRIS antarnegara, implementasi Pusat Inovasi Digital Indonesia, dan percepatan Kartu Kredit Pemerintah jadi prioritas. BI juga bersinergi melalui digitalisasi transaksi pemda lewat KATALIS P2DD dan Digipay.

4. Pendalaman Pasar Uang dan Valas

BI perluas ekosistem PUVA untuk dukung LCT perdagangan, turunkan threshold transaksi valas tanpa dokumen underlying dari USD100.000 ke USD50.000 per bulan mulai 1 Juli 2026, dan perkuat kerja sama internasional dengan memfasilitasi pembayaran mata uang lokal.


Penulis        : Peni Widarti
Editor          : Redaksi
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%
  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%
  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%
  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%
  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%
  • Geopolitik Masih Panas, Dolar Menguat, Jatim Tetap Optimistis Ekonomi 2026 Bisa Tumbuh 4,9% - 5,7%

Posting Komentar