Gaya Hidup Digital Melejit, Utang ‘Paylater’ Perbankan Tembus Rp29,3 Triliun
![]() |
| Ilustrasi kegiatan transaksi belanja online dengan menggunakan sistem pembayaran paylater (BNPL/buy now paylater) yang diawasi oleh OJK. Foto : Buatan AI |
Jatimview.com, SURABAYA - Tren belanja sekarang, bayar nanti atau Buy Now Pay Later (BNPL) kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan sudah menjadi bagian erat dari gaya hidup digital masyarakat Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan lonjakan fantastis pada penggunaan fasilitas paylater yang disediakan oleh industri perbankan.
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, baki debet produk paylater perbankan per April 2026 melesat hingga 37,29% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Tidak main-main, total nilai utang paylater masyarakat di bank kini telah menembus angka Rp29,3 triliun. Angka ini naik tajam dibanding Maret 2026 yang tumbuh di angka 24,20%.
Seiring dengan melonjaknya nilai utang tersebut, jumlah masyarakat yang tergiur menggunakan fitur ini juga ikut meroket. OJK mencatat jumlah rekening penggunanya kini telah menyentuh 31,76 juta rekening per April 2026, meningkat hampir 1 juta rekening hanya dalam waktu satu bulan (Maret 2026: 30,81 juta rekening).
Candu Kemudahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Meskipun porsi produk paylater baru menyumbang sekitar 0,34% dari total kredit perbankan, laju pertumbuhannya yang agresif menunjukkan bahwa masyarakat semakin bergantung pada kemudahan akses pembiayaan jangka pendek ini.
Fenomena ini diduga kuat dipicu oleh semakin terintegrasinya sistem perbankan dengan berbagai platform e-commerce, aplikasi ride-hailing, hingga layanan pesan-antar makanan.
Menariknya, lonjakan utang konsumtif digital ini terjadi justru di tengah situasi ekonomi makro yang sedang penuh tekanan. OJK menyebutkan bahwa konflik geopolitik global saat ini memicu kenaikan harga energi dan inflasi domestik di Mei 2026. Namun, tekanan tersebut tampaknya tidak menyurutkan hasrat belanja masyarakat lewat skema cicilan instan.
Perbankan Tetap Solid dan Likuiditas Aman
Meski tren utang paylater masyarakat melesat tinggi, OJK memastikan kondisi industri perbankan secara umum masih berada dalam koridor yang aman dan sangat solid. Kualitas kredit perbankan nasional tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross di level rendah sebesar 2,17% dan NPL net terjaga di angka 0,84%.
Secara keseluruhan, fungsi intermediasi perbankan juga tumbuh positif. Penyaluran kredit perbankan nasional per April 2026 tumbuh sebesar 9,98%(yoy) dengan nilai mencapai Rp8.755 triliun, yang masih didominasi oleh pertumbuhan Kredit Investasi sebesar 19,48%.
"Ketahanan permodalan perbankan yang kuat bertindak sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai," tulis OJK dalam rilis resminya.
Melalui data ini, OJK mengimbau industri jasa keuangan untuk tetap konsisten melakukan pendalaman pasar dan menjaga manajemen risiko yang ketat, agar tren pertumbuhan digital yang masif ini tidak menjadi bumerang bagi stabilitas keuangan nasional di masa depan.

Posting Komentar